Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam Auto!
Jatuh cinta saya akan bisnis kuliner dimulai sejak saya mengalami sakit tipes di tahun 2007 yang mengharuskan saya untuk bedrest (istirahat - tidur-tiduran) setelah lulus kuliah, saran dengan kebiasan makan yang ngacak tidak beraturan wajarlah kalau Allah menegur saya. Saat itu saya hanya bisa tidur, sesekali ke kamar kecil mandi (jarang), diam, dan paling nonton TV. Tapi ternyata kecintaan saya akan dunia kuliner tumbuh melalui satu acara yang menginspirasi saya, acaranya Om Bondan maknyus. \
Setelah lepas dari sakit dimulailah petualangan kuliner.
Berikut daftar produk yang saya pernah jual:
1. Pisang cokelat
2. Cimol
3. Es Buah
4. Pisang bakar
5. Nasi Uduk kremes (saat ini mulai menggunakan branding)
6. Keripik Pedas Ganong
7. Soto Ayam Ojo
8. Pangsit Pelangi
Alhamdulillah semua gagal, semuanya harus disuntik mati, ada yang permanen tapi juga ada yang temporer. Semuanyapun senilai untuk saya, terutama nilai plus minus kuliner yang saya jalani mengingat buuuanyak sekali orang yang terjun di bidang bisnis ini. Memang belum A - Z tapi setidaknya motivasi untuk lainnya pula memperbaiki telah ada.
Saat ini setelah ditimang-timang saya menyuntik hidup kembali bisnis yang mati suri, yaitu keripik balado. Kali inipun dengan perbaikan sana-sini, terutama kualitas keripik yang dijaga sebaik mungkin plus pemasaran yang rencananya via social media twitter. Kualitas saya kedepankan agar saya tak kalah sebelum berperang, apalagi mengingat saya juga sudah mempersiapkan domain toko online yang terbilang cukup mumpuni keripikbalado.com.
Bersama Kelompok Bisnis Mentoring TDA Bekasi saya berusaha untuk terus meng'explore (baca: penelitian) agar tercipta kualitas yang keripik yang diinginkan sehingga bisa menciptakan produk yang lebih baik lagi. Bukan karena latah atau ikut-ikutan loh alasan saya menghidupkan bisnis keripik ini kembali, mengingat saat tulisan ini dibuat ada keripik dari Bandung yang lagi tren. Semua ini semata-mata memang karena pasarnya yang masih sangat terbuka lebar.
Saya hanya mengcopy paste promosi pemasarannya melalui twitter dan hal inipun sepertinya perlu dianalisa kembali efektifitasnya. Saya fokus pada penjualan offline (konsinyasi ke warung) untuk kemudian setelah "terlihat" uangnya (show me the money kata TDW) baru dilanjutkan pengerjaan toko onlinenya. Konsep yang diusung mencopy paste system distribusi salah satu perusahaan Jepang yang menjual minuman probiotik.
Sampai sejauh ini proses eksplorasi produk masih dilakukan insyaallah dalam waktu dekat akan mulai re-launching produk agar kemudian tetap fokus, bertahan, dan dikembangkan. Lain kali saya akan bercerita tentang tips & trik bisnis kuliner yang menurut pengalaman dan pengamatan saya akan abadi.